Apakah Pendidikan Seksual Diajarkan Pada Masa Pubertas?

Pendidikan merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena membangun kepribadian setiap individu sehingga dapat menjadi standar baik buruknya kualitas pendidikan yang diterima setiap individu. Pendidikan juga terkait dengan peran kedua orang tua sebagai pihak pertama yang bertanggung jawab kepada anaknya yang menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang berkualitas maksimal untuk masa depannya. Oleh karena itu, para ayah mempunyai tanggung jawab dan usaha kepada putra-putrinya untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas, baik melalui lembaga pendidikan maupun melalui jalur ayah secara langsung.

Tanggung jawab orang tua dapat mencakup semua aspek kehidupan, tidak hanya akademik, tetapi pengasuhan anak di dalamnya harus dapat membesarkan anak agar menjadi karakter dan moral yang baik. Salah satu pendidikan yang seharusnya diterima anak adalah pendidikan seksual, karena dengan pendidikan seksual yang baik dan benar pada anak, anak menjadi generasi penerus yang selalu dapat melindungi diri dari perbuatan, sikap, perbuatan dan perilaku yang menyimpang sebanyak perbuatan zina. Meskipun pendidikan seks masih dianggap tabu, dengan memberikan pengetahuan tentang seks, anak akan memahami tanggung jawabnya terhadap organ seksual, dan hal-hal baik dan buruk tentang seks.

Pendidikan seks atau sex education yang dapat diajarkan pada anak usia dini adalah:

  • Mengacu pada area tubuh yang tidak dapat disentuh atau dilihat oleh orang lain (pribadi).

Dengan memperkenalkan area tubuh yang tidak boleh dilihat atau disentuh pada anak-anak, tanpa mengakibatkan area pornografi, dia tidak perlu berlebihan dan cukup menguraikan untuk menjelaskan dan membenarkan mengapa area tersebut tidak boleh disentuh atau dilihat orang lain.

  • Mengajarkan konsep perbedaan laki-laki dan perempuan antara anak-anak.

Sebagai orang tua, ada baiknya untuk menjelaskan perbedaan antara jenis kelamin kepada anak-anak Anda sehingga mereka tahu perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan, yang biasanya tergantung pada perbedaan antara jenis kelamin ayah dan ibu. Anak kecil sering bertanya-tanya mengapa ibu memiliki payudara besar dan ayah tidak? Dengan pertanyaan seperti itu, orang tua dapat menjawab bahwa wanita akan mengembangkan area payudaranya ketika mereka bertambah tua karena mereka akan menjadi ibu yang akan menyusui bayinya di masa depan.

  • Belajar menghargai lawan jenis (hindari perilaku pelecehan seksual).

Ajari anak bahwa anak harus menghormati lawan jenis dan sesama jenis saat bermain dengan tidak menyentuh atau melihat bagian pribadi orang lain.

  • Menanamkan budaya malu pada anak

Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan rasa malu pada anak kita agar mereka bisa menghargai diri sendiri dan menetapkan batasan untuk berinteraksi dengan lawan jenis.

  • Batasi atau pantau tayangan di televisi atau Gadget

Tentunya banyak hal yang berbau pornografi di TV atau gadget, sehingga sudah selayaknya menjadi orang tua dan mengawasi agar anak tidak terlibat dalam tayangan atau konten pornografi di usia dini.

BACA JUGA  Mewujudkan Generasi Berprestasi melalui Asupan Makanan Bergizi dan Bernutrisi

Anak-anak dan remaja rentan terhadap kesalahan informasi tentang seksualitas, dan kurangnya pendidikan seksualitas yang sesuai atau kurangnya pendidikan seksualitas sama sekali akan mempengaruhi kelelahan mereka melalui kesalahan informasi yang salah. Pendidikan seks harus memainkan peran orang tua, dengan orang tua segera memperhatikan anak-anaknya dalam memberikan pendidikan seksual. Cara orang tua memperkenalkan pendidikan seks adalah dengan memberi tahu anak-anak bahwa seks itu normal dan normal bagi semua orang dan mendidik tentang berbagai perilaku yang mengarah pada aktivitas seksual yang dapat berbahaya bagi anak-anak. Sehingga mereka mengerti dan menghindari he-she. Ini adalah saat di mana anak sudah melewati masa pubertas dan pada waktu yang tepat.

Tujuan pendidikan seks adalah membentuk sikap yang sehat terhadap seksualitas pada anak dan membimbing anak menjadi dewasa dan bertanggung jawab dalam menghadapi dan memahami seksualitasnya. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak dini dengan baik dan benar melalui pengenalan yang berkaitan dengan seks.

Tentunya untuk membesarkan anak agar menjadi baik dan terlihat berakhlak mulia, hal ini masih dalam pandangan masing-masing orang tua anak, tidak bijak jika cara dan proses yang diterapkan mencerminkan obsesi orang tua untuk menyemangati anaknya. Itu dilakukan dengan paksa, bukan secara demokratis. Berkenaan dengan metode pendidikan seks, orang tua harus mampu menciptakan ruang untuk refleksi dan pengambilan keputusan, termasuk situasi penolakan dan penolakan. Hanya orang tua yang berhak mengajukan penawaran dengan segala alasan dan argumentasinya, dan selebihnya meninggalkan pilihan alternatif bagi anak untuk menentukan posisinya. Namun, tujuan dari jalan demokrasi tanpa adanya tekanan tidak berarti membebaskan anak dari seksualitas. Tujuan demokrasi adalah agar tawaran pendidikan seks menjadi pengkondisian perkembangan dan ekspresi diri bagi anak-anak yang akan mampu memiliki anak yang mampu menghasilkan anak-anak yang percaya diri, mandiri, imajinatif dan mudah belajar. Namun, bentuk penyampaian yang digunakan harus sesuai dengan kepribadian anak yang bersangkutan.